Category: Tentang Dojo Dragon Fire



Bulungan Cup XV merupakan salah satu event terbesar yang dilaksanakan oleh SMAN 70 Jakarta. Terdapat banyak kegiatan olah raga dan seni yang terdapat dalam kegiatan Bulungan Cup ini. Salah satu kegiatan dalam event ini adalah Kejuaraan Ju-Jitsu. Kejuaraan Ju-Jitsu ini telah dilaksanakan selama enam  tahun berturut-turut dan memperoleh animo yang cukup baik dari setiap pelajar SMA yang ada di Indonesia.

Dojo Dragon Fire Surabaya diwakili oleh duta-duta pelajar yang bersekolah di SMA Giki 1 Surabaya. Sebanyak 18 orang atlit dan 2 orang official berperan serta di BULCUP XIV ini. Perjalanan darat dengan menggunakan kereta api selama kurang lebih 15 jam tidak mengurangi semangat atlit-atlit DFFC dalam pertandingan ini. Hal ini disebabkan karena adanya motivasi yang sangat besar yang diberikan oleh Kepala Sekolah, orang tua wali murid dan semua anggota DFFC sebelum para duta DFFC tersebut meninggalkan kota Surabaya. Semangat yang dimiliki oleh para senior yang tampilsebelumnyadi berbagai Kejuaraan Ju-Jitsu  dalam lingkup Institut Jujitsu Indonesia (IJI) tetap menjadi kata kunci para duta-duta DFFC tersebut.

bulcup XV


bulcup xiv

Bulungan Cup XIV atau dikenal dengan nama BULCUP XIV adalah salah satu event terbesar yang dilaksanakan oleh SMAN 70 Jakarta. Terdapat banyak kegiatan olah raga dan seni yang terdapat dalam kegiatan Bulungan Cup ini. Salah satu kegiatan dalam event ini adalah Kejuaraan Ju-Jitsu. Kejuaraan Ju-Jitsu ini telah dilaksanakan selama 5 tahun berturut-turut dan memperoleh animo yang cukup baik dari setiap pelajar SMA yang ada di Indonesia.
Kali ini Dojo Dragon Fire Surabaya mengirim duta-duta pelajar yang bersekolah di SMA Giki 1 Surabaya. Sebanyak 11 orang atlit dan 2 orang official mengikuti event BULCUP XIV ini. Atlit-atlit ini dipilih berdasarkan hasil seleksi yang dilakukan di Dojo Dragon Fire dan dianggap mampu untuk mengikuti kegiatan kejuaraan antar pelajar ini.
Semangat yang dimiliki oleh para senior yang tampil sebelumnya di Kejuaraan Ju-Jitsu Asia 1 ternyata memberikan motivasi yang positif bagi generasi lapis kedua Dojo Dragon Fire ini. Walaupun terlihat kurang istirahat selama perjalanan darat tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat bertanding mereka.
Dalam event ini SMA Giki 1 Surabaya memperoleh hasil sebagai berikut Medali Emas (Kelas A puteri atas nama Diah Ayu) Kelas B puteri atas nama Putri Anggun, Kelas F Putri atas nama Yuriko dan beregu putri (Diah, Anggun dan Yuriko), sedangkan medali perak atas Kelas C putra atas nama Ilham, Beregu Putera (Ilham, gembong dan rofiq), sedangkan medali perunggu dipersembahkan oleh Rofiq (Kelas D putra) dan Dita (Kelas B puteri). Dengan hasil ini menempatkan SMA Giki 1 Surabaya sebagai Juara Umum 2 di bawah SMAN 70 Jakarta yang menjadi Juara umum 1. Disamping itu Yuriko Paramita terpilih menjadi “The Best Player Puteri” yang melengkapi prestasi yang diperoleh oleh para senior pada tahun-tahun sebelumnya.
Hasil dari Kejuaraan Bulungan Cup XIV ini menjadi pelengkap prestasi di penghujung tahun 2012. Secara keseluruhan hasil yang telah diperoleh oleh duta-duta Dojo Dragon Fire Surabaya selama tahun 2012 cukup menggembirakan, tetapi hal ini tidak menjadikan para duta tersebut merasa cepat puas atas prestasi yang diperolehnya sehingga di masa mendatang akan mencoba untuk menjadi yang terbaik kembali di setiap kejuaraan Ju-jitsu yang diselenggarakan dimana saja.


Kejuaraan Ju-Jitsu Asia 1

Kata ini yang mungkin tepat untuk diberikan kepada ketiga duta Dojo Dragon Fire Surabaya yang dipercaya untuk membela Merah Putih di ajang Kejuaraan Ju-Jitsu Asia 1. Kejuaraan ini telah dilaksanakan dari tanggal 7-9 Desember 2012 bertempat di GOR Wiladatika Cibubur Jakarta Timur.
Ketiga duta Dojo Dragon Fire tersebut antara lain Elvy Yuliana yang turun di kelas 60 Kg, Nurdianto Zuhroni (Roni) yang turun dikelas 80 Kg serta Febrian Sujatmiko yang turun di kelas 90 Kg.
Ketiga duta dari dojo Dragon Fire ini telah dipilih mewakili Indonesia melalui seleksi yang dilakukan oleh Pengurus Pusat Institut Ju-Jitsu Indonesia yang diikuti oleh semua Ju-Jitsan terbaik dari masing-masing provinsi di Indonesia.
Setelah terpilih melalui seleksi selama 2 hari penuh, mereka masuk dalam pemusatan latihan yang juga dipusatkan di Cibubur-Jakarta Timur.
Hasil yang diperoleh ketiga duta Dojo Dragon Fire Surabaya antara lain : Medali Emas yang dipersembahkan oleh Elvy Yuliana, Medali Perak oleh Febrian Sujatmiko dan Medali Perunggu oleh Nurdianto Zuhroni.
Hasil yang diperoleh oleh ketiga duta Dojo Dragon Fire ini menambah koleksi prestasi yang dimiliki oleh anak-anak Dojo Dragon Fire selama kurun waktu 2012. Hasil ini tidak menjadikan duta Dojo Dragon Fire Surabaya menjadi manusia yang sombong, tetapi semakin menjadikan cambuk untuk dapat berlatih lebih giat dan keras lagi untuk menghadapi event yang sama di tahun 2013 yaitu Kejuaraan Ju-Jitsu Asia ke 2 dan Kejuaraan Dunia Ju-Jitsu 2014 yang rencananya akan dilaksanakan di Bali.

Ju-jitsu Mania


Tahun 2012 adalah puncak pencapaian prestasi yang ditorehkan oleh anak-anak dari Dojo Dragon Fire di ajang kompetisi Jujitsu, baik yang dilaksanakan di tingkat pelajar, antar dojo dan umum maupun antar provinsi. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan mengikuti seleksi nasional maka terdapat tiga duta Dojo Dragon Fire Surabaya yang akan mewakili Indonesia di ajang Kejuaraan Jujitsu Asia yang akan dilaksanakan di GOR Wiladatika Cibubur, Jakarta Timur pada tanggal 7 – 9 Desember 2012.

Ketiga duta dari Dojo Dragon Fire Surabaya antara lain :

  1. Zuhroni Nurdianto (KYU I)
  2. Febrian Sujatmiko  (KYU II)
  3. Elvy Yuliana (KYU III)

Tugas negara yang diamanahkan kepada Dojo Dragon Fire dapat dikatakan tugas yang tidak mudah, tetapi kami akan berusaha sebaik-baiknya untuk memberikan kebanggaan bagi Institut Jujitsu Indonesia (IJI) dan seluruh rakyat Indonesia. Kami butuh dukungan doa dari semua saudara-saudara seperguruan untuk mencapai cita-cita tinggi tersebut.


Beladiri Jiu Jitsu khususnya aliran Kyushin – Ryu( I Kyushin Ryu ) masuk ke Indonesia pada saat sekitar pergolakan Perang Dunia II, yaitu pada tahun 1942 yang dibawa oleh tentara Jepang bernama Ishikawa.

Ishikawa mewariskan ilmunya kepada R. Soetopo yang kemudian menurunkan kepada Drs. Firman Sitompul, Brigjen ( Pol ) Drs. DPM Sitompul SH,MH , Drs. Heru Noercahyo. MM , Drs Bambang Soeprijanto, Mayor ( Pol ) Drs. Heru Winoto. Beliau – beliau inilah penggerak berkembangnya Jiu Jitsu di tanah air hingga kini.

 

Logo Institut Ju-Jitsu Indonesia

Pada tahun 1981 diadakan demontrasi bela diri Jiu Jitsu di PTIK Jakarta oleh ahli Jiu Jitsu Indonesia yang akhirnya mendapat penghargaan ( pengakuan ) dari Kedutaan besar Jepang di Jakarta.Di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian pada tanggal 23 Juni 1982 seorang alumni Mahasiswa PTIK bernama : Kapten Pol. Drs. Adityawarman ( Sabuk Coklat Kyu I ) telah berhasil mempertunjukkan pukulan memakai tenaga dalam Jiu Jitsu terhadap tumpukan batu bata merah sejumlah 34 ( tiga puluh empat ) ± 1,5 Meter dapat dipukul pecah semua dan hal tersebut telah disiarkan lewat televisi pada siaran Hankam.

Mahasiswa – mahasiswa PTIK angkatan XVII / Widya Bhakti pada tingkat sabuk Biru atau Kyu 2, telah mampu memukul pecah susunan batu bata sebanyak 17 ( tujuh belas ) tumpukan dilakukan oleh Kapten Pol A. Simanjutak ( tanggal 2 Nopember 1982 ). Disamping hal tersebut di atas bela diri Jiu Jitsu juga mempunyai tehnik beladiri khusus yang berguna untuk Polisi dan sudah di uji coba di PTIK, tehnik – tehnik tersebut meliputi :
Ø Tehnik menggunakan jaket POLRI/TNI sebagai alat untuk membela diri
Ø Tehnik menggunakan helm ( topi ) patroli sebagai alat membela diri
Ø Tehnik menggunakan sabuk sebagai alat membela diri
Ø Tehnik menggunakan tongkat dan borgol Polisi
Ø Tehnik Perkelahian di Mobil Patroli Polisi
Ø Tehnik menggunakan tongkat pendek kecil patroli Yaware ( pulpen ) sebagai alat membela diri
Ø Tehnik beladiri untuk Polisi Wanita
Ø Perkelahian malam hari

Memang pada hakekatnya alat perlengkapan perorangan Polisi di lapangan yaitu :
Jaket, sabuk, tongkat, tali pada dasarnya dapat digunakan sebagai alat untuk membela diri dari serangan fisik para pelanggar hukum, baik bentuk serangan itu dengan senjata tajam maupun dengan tangan kosong ( tanpa senjata )

Dalam perkembangannya sampai sekarang ini, Jiu Jitsu berkembang pada kesatuan militer di LINUD KOSTRAD Yon 328 Cilodong Bogor, KOPASSUS, PASPAMPRES, PUSDIKKES MARINIR di Surabaya dan kesatuan militer lainnya.
Jiu Jitsu yang berkembang dewasa ini, telah membentuk suatu Induk organisasi yang bernama Intitut Jiu Jitsu Indonesia ( IJI ) yang berpusat di Jakarta dan telah menjadi anggota Federasi Jiu Jitsu di dunia yang bernaung di bawah organisasi World Council of Jiu Jitsu Organization ( WCJJO ) yang bermarkas di London, Inggris.

Sumber :

http://www.facebook.com/groups/info.iji/


SUMPAH JU-JITSU

  1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Taat pada orang tua
  3. Sanggup menjaga nama baik Ju-jitsu
  4. Bersifat kesatria dan jujur
  5. Taat pada pelatih

SEMBOYAN JU-JITSU

  1. Berlatih Ju-jitsu demi kemanusiaan
  2. Tidak boleh sombong
  3. Melindungi yang lemah berdiri dipihak yang benar
  4. Ju-jitsu digunakan hanya dalam keadaan terpaksa
  5. Dalam latihan tidak ada tawa dan tangis

Sejarah Dojo Dragon Fire

Pada era tahun 1996-1997 terjadi penurunan jumlah mahasiswa yang mengikuti ektra kurikuler Ju-jitsu di Universitas 45 Surabaya, sehingga mendorong Dino Rimantho (pada saat itu KYU II/sabuk biru) untuk mencari jalan keluar agar ekstra kurikuler Jujitsu tetap eksis. Berbekal ijin dari pelatih Sabdo Sahono (DAN II), pada pertengahan bulan Juli 1997 Dino Rimantho membuat proposal pengajuan kegiatan ekstra kurikuler di SMA dan SMP GEMA 45 Surabaya.  Dasar pertimbangan untuk mengajukan proposal itu selain untuk mengembalikan kondisi peserta latihan, juga karena lokasi dari SMA dan SMP GEMA 45 Surabaya masih berada dalam satu komplek. Yaitu komplek Gedung Juang DHD 45 Jawa Timur dan masih dalam naungan Yayasan yang sama.

Faktor kedekatan tidak hanya berdasarkan lokasi, tetapi juga kedekatan emosional. Karena pada saat itu yang menjadi Kepala Sekolah SMP GEMA 45 Surabaya (Drs. Margana) adalah mantan guru Dino Rimantho di salah satu sekolah SMP Negeri di Surabaya Utara yang semakin memudahkan proses pengajuan kegiatan ekstra kurikuler tersebut.  Sebagai konsekuensi tanggung jawabnya maka pada bulan Oktober 1997, muncul Surat Keputusan pengangkatan saudara Dino Rimantho sebagai Guru Pembina Ekstra Kurikuler Ju-jitsu di lingkungan SMA dan SMP GEMA 45 Surabaya.

Dari hasil penjaringan murid pada saat MOS, dimana pada saat itu tidak menggunakan Demo peragaan atau menyajikan materi  di depan murid-murid baru, hanya menggunakan beberapa poster yang dipasang di beberapa lokasi papan pengumuman sekolah. Sebagai hasilnya dari SMA GEMA 45 Surabaya diperoleh siswa/siswi sebanyak 25 orang (Faisal Rully, Sherly, Sangaji, Diendy, Khoirul dkk.) sedangkan dari SMP GEMA 45 diperoleh sebanyak 5 orang siswa (Shanti Emilia C., Sigit Nathanael dkk. Inilah angkatan pertama sebagai cikal bakal penerus generasi mahasiswa yang kurang aktif. Pada beberapa tahun berikutnya animo siswa/siswi yang mengikuti ekstra kurikuler Jujitsu ini semakin bertambah seiring dengan peningkatan prestasi di berbagai kejuaraan. Hal ini bertolak belakang dengan kondisi mahasiswa yang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler ini justru semakin menurun dan hampir tidak ada mahasiswa yang mengikuti, walaupun berbagai upaya dilakukan untuk menarik mahasiswa agar mengikuti kegiatan ekstra kurikuler Jujitsu tersebut.

Ketidaktersediaan fasilitas yang memadai untuk berlatih di SMA dan SMP GEMA 45 Surabaya (matras, sansak dan lain-lain0 mendorong Dino Rimantho mengajak dan membawa murid-murid dari kedua sekolah tersebut untuk berlatih di Universitas 45 Surabaya. Hal ini memberikan dampak positif bagi perkembangan kegiatan ekstra kurikuler Jujitsu di Universitas 45 Surabaya, baik dari sisi peserta latihan dan dari sisi prestasi di kejuaraan pada level apapun.  Hal ini karena secara kuantitas dan kualitas siswa/siswi SMA dan SMP GEMA 45 Surabaya mampu bersaing dengan mahasiswa dan dalam berbagai event kejuaraan membawa nama Universitas 45 Surabaya sebagai peringkat terbaik sekalipun mereka bukan Mahasiswa Universitas  45 Surabaya.

Pada tahun 2001, kegiatan ekstra kurikuler ju-jitsu di SMA GEMA 45 Surabaya di bekukan oleh pihak sekolah tanpa adanya penjelasan. Akan tetapi masih banyak siswa/siswi  dari SMA GEMA yang berlatih Ju-jitsu sekalipun sudah tidak ada kegiatan ekstra kurikulernya.

Sebagai gantinya,  Dino Rimantho mengajukan proposal pengajuan ekstra kurikuler di SMA Kartika V-3 (Persit)Surabaya dan SMK GEMA 45 Surabaya. Kedua sekolah ini juga mengalami pasang surut dalam latihannya dan hanya dapat bertahan selama 5 (lima) tahun karena menurunnya jumlah peserta didik.

Keberadaan siswa/siswi SMA dan SMP GEMA 45 Surabaya yang berlatih di Universitas 45 Surabaya pada awalnya tidak menemui permasalahan yang dianggap serius. Tetapi pada perjalanannya sekitar tahun 2007-2009, timbul permasalahan yang dianggap dapat mempengaruhi mental psikologi anak-anak SMP GEMA 45 yang masih berlatih di Universitas 45 Surabaya. Berbagai upaya dilakukan untuk dapat mencari solusi agar permasalahan tersebut tidak menimbulkan gesekan, akan tetapi hal yang ditakutkan benar-benar terjadi  bahwa secara psikologi anak-anak SMP GEMA 45 Surabaya tertekan secara mental psikologi. Karena adanya permintaan dari Orang Tua/Wali Murid SMP GEMA 45 Surabaya, maka diadakan pertemuan untuk membahas upaya penyelesaian masalah tersebut. Sebagai solusi dari semua orang tua yang hadir menyarankan untuk memisahkan diri dari Universitas 45 Surabaya.

Pada tahun2009, Dino Rimantho memindahkan tempat latihan yang sebelumnya di Universitas 45 Surabaya ke SMP GEMA 45 Surabaya. Alasan pemindahan ini bukan hanya didasarkan pada lokasi latihan tetapi juga karena beberapa alas an lainnya seperti sudah tidak adanya mahasiwa yang mengikuti kegiatan Jujitsu, keinginan orang tua/wali murid untuk memisahkan diri dan menjadi Dojo tersendiri dengan nama yang berbeda. Keputusan ini merupakan keputusan tersulit yang harus diambil, tetapi mengingat masa depan murid-murid Jujitsu adalah lebih penting yang harus dipertahankan. Maka pada tanggal 20 November 2011 secara resmi Dino Rimantho membuat nama baru untuk Dojo SMP GEMA 45 Surabaya dengan nama DOJO DRAGON FIRE Surabaya.

Pendirian Dojo Dragon Fire Surabaya ini di dasarkan pada beberapa faktor antara lain, membina dan mengembangkan bakat peserta didik untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Disamping itu sesuai dengan UUD 1945 bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasar dalam bidang apa saja. Lebih jauh, pendirian Dojo Dragon Fire didasarkan pula pada Undang-undang sistem keolahragaan nasional, dimana setiap orang berhak untuk melakukan kegiatan dan memilih kegiatan olah raga sesuai dengan bakat dan minatnya. Berdasarkan hal tersebut, pendirian Dojo Dragon Fire tidak bertujuan semata-mata untuk meningkatkan prestasi peserta didik, tetapi lebih didasarkan pada pembinaan mental peserta didik untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


Hari dan Jam latihan :

  • Rabu : jam 16.00 – 18.00 WIB
  • Sabtu : jam 16.00 – 20.00 WIB

Kontak Person :

  • Rory Saroso – KYU I
  • Zuhroni (Zuhroni) – KYU I
  • M. Effendi (Ucup) – KYU I
  • Icen Insan Cendekia – KYU II

Alamat e-mail :

dojo.dragonfire@gmail.com

Lokasi latihan :

Dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan :

  • Lyn DA (Jurusan PTC – Pasar Atom) turun di depan SMP GEMA 45 Surabaya.   Ongkos untuk pelajar sekitar Rp. 1500,- sampai Rp. 2000,-
  • Lyn Jurusan Joyoboyo Balongsari (Warna Coklat) turun di Jln. Mayjen Sungkono (depan Gedung DHD Angkatan 45 Jawa Timur atau depan Gedung Mercedes Benz). Disarankan turun di depan Darmo Park (depan Bioskop Vida, sekarang billiard) karena jalur lalu lintas yang ramai dan sering terjadi kecelakaan.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.